aku melangkah menaiki trem yang telah kutunggu. berdiri di antara gerbong trem. tempat favorit untuk berdiri di kala seluruh kursi terjajahi manusia. tak sadar ku tatap seorang lelaki. peluh dan lelah menghiasi wajah lelaki itu. dia membawa tongkat beserta poster di pucuknya. sedikit memiringkan kepala kucoba untuk membaca apa yang tertera di atas poster tersebut. ternyata sebuah seruan untuk memboycot. ternyata beliau baru saja berdemo.
Sejenak kuperhatikan wajah lelaki ini. damai tertera di wajahnya. kusunggingkan seutas senyumku padanya. dia tersenyum tulus membalasku. kuberanikan bertanya pada lelaki itu. sekedar mencoba berbasabasi bertanya apa yang telah dilakukannya.
Spreken Engels? aku bertanya dengan bahasa belanda seadanya. little bit. katanya. dimulailah pembicaraan singkat yang tak lebih dari 10 menit. pembicaraan yang hanya berjarak centrum- leeghwaterplein.
lelaki itu berdemo. sabtu atau minggu dia selalu siap sedia di grote markt.sebuah pusat perbelanjaan di kotaku. dengan berbekal sebuah poster yang menunjukan ketidak setujuannya atas kejahatan terorganisir di muka bumi ini. lelaki itu hanya cukup diam dan sesekali menyapa orang2 yang lalu lalang di depan perbelanjaan itu. mengutarakan apa maksudnya. tulus! karena beliau peduli dengan saudaranya di palestina.
aku tak sanggup bertanya apakah dia bersaudara berdasarkan agama,keyakinan atau bangsa. ketulusan mata dan hatinya terpancar tanpa perlu dia berkata. keunikan pandangan hidupnya di tengah kerumunan bangsa yang justru mendukung negara yang di boikotnya.
lelaki itu bertanya, dari mana asalmu. dengan bangga kuucapkan INDONESIA. matanya berbinar. INDONESIA peduli akan palestina kan? kujelaskan bahwa setidaknya kita tidak punya hubungan diplomatik dengan israel, negara yang di boycotnya. matanya kembali berbinar.
bapak tua di trem 1. tulusnya dirimu untuk menunjukan sikapmu. tanpa perlu sokongan recehan 1 euro-2 euro. berjuang demi memperjuangkan kehidupan saudaramu.kuminta dia sejenak kuabadikan dalam kameraku. untuk selalu mengingatkanku untuk peduli dengan saudaraku. siapapun mereka.

…
aku termenung. teringat akan pertemuan tersebut 2 minggu yang lalu. bapak tua trem 1. perbincangan centrum-leeghwaterplein mengajarkan aku. masih banyak orang yang peduli dengan saudaranya. dengan caranya masing2.
…
aku malu.
aku malu menyematkan “mahasiswa” di dadaku kalau ternyata mahasiswa adalah orang yang teriak2 dijalan melempar batu atas nama rakyat.
aku malu mengatakan bahwa aku “mahasiswa” kalau ternyata mahasiswa identik dengan membakar kendaraan plat merah hasil pajak rakyat atas nama BBM tinggi.
aku malu mengaku mahasiswa kalau ternyata mahasiswa sama dengan cecunguk2 tanpa otak yang bersedia panas2an hanya untuk selembar kertas berwajahkan pahlawan nasional.
…
WAHAI CECUNGUK2 muda!! jangan kau berani2 mengatasnamakan rakyat untuk melegalkan tindakan2 anarkismu itu!!
Wahai cecunguk2 liar! jangan kau sematkan jaket almamater di badanmu, jika hanya untuk melempar batu ke arah aparat keamanan.
WAHAI Cecunguk2 bayaran!! persetan dengan kalian. menyingkirlah kalian dari jalanan. rakyat tidak butuh orang2 bayaran. jangan kau bebani mereka dengan kata2 membela kepentingan mereka padahal kau hanya mencari bayaran semu. pergilah kalian dari jalanan!!
sampah!!!
…
recent BLUmentar